Label:

D.U.I.T For Your Live




Pasti ada yang bingung dengan maksud dari judul postingan saya, bagi yang sudah mengerti silakan di baca lagi dan bagi yang bingung saya akan membantu menghilangkan kebingungan anda.
Pada dasarnya manusia hidup hanya untuk satu tujuan dan tujuan itu tak lain dan tak bukan adalah D.U.I.T, pasti ada yang langsung berfikir ” klo hal itu sih semua orang udah tau, kita memang hidup untuk mencari DUIT, klo ndak punya duit gimana kita mau bayar biaya untuk makan, minum, sekolah, pajak, dll.” Klo memang benar ada yang berfikiran seperti itu berarti orang tersebut ilmu KEHIDUPANNYA masih dangkal :) hehehe… just kiding jangan marah ya…
Maksud saya dalam hal ini bukanlah DUIT yang bahasa bekennya MONEY lho ya !! Yang saya maksudkan DUIT disini adalah :
  • D = DOA, karena manusia pada dasarnya sudah di perintahkan oleh tuhan untuk berDOA dalam segala hal, baik itu ketika menimpa musibah, mendapatkan rejeki ataupun ketika menginginkan sesuatu manusia sudah diwajibkan untuk berDOA, karena DOAitu ada banyak macamnya(doa minta rejeki, doa minta pengampunan, dan doa bersyukur atas berkahNya). Sebagai manusia yang beragama dan memiliki kepercayaan terhadap suatu Dzat yang lebih tinggi dari pada manusia dan alam semesta maka kita diwajibkan untuk berDOA selama kita masih bernafas di dunia ini.
  • U = USAHA, setelah berdoa kita sebagai manusia diwajibkan untuk berUSAHA dalam hidup ini, karena tanpa berUSAHA maka kita tidak akan dapat mencapai apa yang kita inginkan, karena mustahil sesuatu yang kita inginkan tiba-tiba jatuh dari langit (pasti mengerikan terutama apabila kita menginginkan rumah yang besar dan tiba-tiba jatuh dari langit menimpa kita, bayangkan apa yang akan terjadi, yeng terjadi adalah kita pasti GEPENG alias PENYET karena tertimpa rumah tersebut). Maka dari itu TUHAN amatlah sangat penuh kasih dan sayang terhadap kita karena apa yang kita inginkan tidak tiba-tiba jatuh dari langit melainkan kita dapatkan dari hasil kita berUSAHA.
  • I = IKHTIAR, makna dari kata IKHTIAR dapat anda baca dari contoh kisah ini dan saya harap dari kisah tersebut anda yang membacanya dapat mengambil kesimpulan tentang apa itu makna IKHTIAR sesungguhnya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari selama nafas masih di kandung badan. Inilah kisah tersebut :
Selesai berlibur dari kampung, saya harus kembali ke Jakarta. Mengingat jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan.”Abang mau beli kue?” Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya. “Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan,” jawab saya ringkas. dia berlalu.
Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istri sepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.
“Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?” tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya.
“Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih,” kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, “Tak mau beli kue saya Bang, Pak… Kakak atau Ibu.” Molek budi bahasanya.
Pemilik restoran itupun tak melarang dia keluar masuk restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.
Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Anak
itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan kaca jendela. Membalas senyumannya.
“Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlukan kue saya untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang,” katanya sopan sekali sambil tersenyum.
Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.
Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya. “Ambil ini Dik! Abang sedekah… Tak usah Abang beli kue itu.” Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.
Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua matanya. Saya terkejut, saya hentikan mobil, memanggil anak itu. “Kenapa Bang, mau beli kue kah?” tanyanya.
“Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!” kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.
“Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!” katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.
“Abang mau beli semua kah?” dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata. “Rp 25.000,- saja Bang….” Selepas dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi. Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.
Dalam perjalanan, baru saya terpikir untuk bertanya statusnya. Anak yatim kah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi atas dasar kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.
  • T = TAWAKAL, hal ini adalah hal yang paling akhir yang harus kita lakukan sebagai manusia yang berIMAN dan berAGAMA. TAWAKAL adalah PASRAH, pasrah yang seperti apakah yang dimaksud?. Pasrah disini adalah pasrah yang kita lakukan apabila sudah melakukan semua hal yang saya sebutkan di atas tadi (Doa, Usaha, dan Ikhtiar). Kita sebagai manusia wajib untuk berTAWAKAL karena pada akhirnya yang memberikan hasil dan yang menentukan hasil akhir dari semua yang kita lakukan tadi (Doa, Usaha, dan Ikhtiar) adalah ALLAH yang Maha Segala-galanya dan yang menguasai seluruh semesta beserta seluruh ciptaanya.
Allah mengilhamkan sukma kefasikan dan ketaqwaan, beruntung bagi yang mensucikanNya, merugi bagi yang mengotoriNya, Subhanallah”
Nah bagi yang sudah membaca artikel yang saya tuliskan di atas, semoga menghilangkan kebingungan dan menghilangkan kesalah pahaman tentang makna DUIT bagi kita manusia yang BERIMAN DAN BERAGAMA, insya allah apabila kita hidup dengan tujuan D.U.I.T maka hidup kita akan lebih bermakna dan bermanfaat tanpa adanya kehampaan di dalam diri kita, AMIN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Jetro's Blog © 2012 | Designed by Plantillas Blogger | Distributed by: best blogger templates for fashion free joomla blog template 1.7 | best vpn client for windows 7 64 cheap linux vps